Sabtu, 04 April 2020

Hipotermia dan Penanganannya


Hipotermia merupakan suatu kondisi dimana tubuh kesulitan mengatur keseimbangan suhu karena tekanan udara dingin. Kondisi ini disebabkan suhu bagian dalam tubuh berada di bawah 35 °C. Padahal, tubuh manusia hanya mampu mengatur suhu pada zona termonetral, yaitu antara 36,5 hingga 37,5°C. Di luar suhu tersebut, respons tubuh untuk mengatur suhu akan aktif. Dan menyeimbangkan antara produksi panas dan kehilangan panas dalam tubuh.

Gejala hipotermia bisa diklasifikasikan menjadi dua. Pertama, saat tubuh dilanda hipotermia ringan, yakni ketika suhu tubuh di antara 32 °C dan 35 °C. Dalam kondisi ini, tubuh akan mengeluarkan reaksi gemetar, kulit dingin dan pucat, napas yang memburu, kelelahan, kebingungan, dan meracau.

Gejala kedua adalah saat suhu tubuh sudah turun di bawah 32 °C. Ketika itu, tubuh akan berhenti menggigil, tak merasa kedinginan dan malah kepanasan. Di tahap itu, biasanya, korban akan melepas pakaiannya (paradoxical undressing) satu per satu. Lalu, ia lama-lama terkena halusinasi dan kehilangan kesadaran.

Lalu, apa yang harus dilakukan untuk menolong korban hipotermia?

Pertama, tentu saja memindahkan korban ke tempat yang lebih hangat. Lalu periksa pakaiannya, jika basah, lepaskan dan beri selimut. Setelah itu, berikan makanan yang mengandung kalori cepat bakar, seperti cokelat atau gula serta minuman hangat non alkohol. Jika korban sudah sampai taraf tidak bernapas, berikan CPR.

Jangan sekali-kali menggosok anggota badan korban dengan keras atau memijatnya. Korban hipotermia juga tak boleh langsung meminum alkohol, menggunakan lampu pemanas, dan berendam di air panas. Tindakan-tindakan tersebut malah bisa menyebabkan fungsi jantung tiba-tiba berhenti.

Banyak kasus paradoxical undressing ditemukan pada korban tewas akibat hipotermia. Korban merasa kepanasan. Sebabnya, saat merasa kedinginan, tubuh akan membentuk mekanisme pengaturan kestabilan suhu. Caranya, dengan melebarkan pembuluh darah yang menyebabkan suhu tubuh meningkat. Itulah mengapa, dalam taraf ringan, cuaca dingin dapat menyebabkan demam. Di situlah paradoksnya. Mereka kedinginan, tapi kemudian membuka baju karena kepanasan.

Jika tubuh terus-terusan terpapar suhu dingin, pembuluh darah di otak akan pecah karena pelebaran. Kondisi ini mengakibatkan pendarahan mendadak di celah antara otak dan membran tengah yang membungkus otak (subarachnoid) serta cedera hipotalamus. Padahal, hipotalamus merupakan bagian dari otak yang terdiri dari sejumlah nukleus dengan berbagai fungsi, salah satunya mengatur suhu.

Paradoxical undressing diperkirakan terjadi pada 25% kasus kematian karena hipotermia. Selain mengalami paradoxical undressing, korban hipotermia juga akan melakukan mekanisme perlindungan primitif. Layaknya hewan berdarah panas lainnya saat terkena hawa dingin, mereka akan menggali lubang atau mencari tempat persembunyian yang hangat.

Jumat, 03 April 2020

EASY RUN, LONG RUN, TEMPO RUN, APA BEDANYA?

Ada banyak jenis latihan lari. Yuk ketahui bedanya.

Meski lari terkesan sebagai olahraga yang sekadar mengangkat kaki dan melayang di udara, faktanya ada berbagai jenis tipe latihannya. Pelari pasti sudah tahu ada yang namanya easy run, long run, tempo run, atau interval run. Tapi sudahkah paham maksudnya?


Andri Yanto (@andri_instagram), coach dan pemerhati olahraga lari, menjelaskan secara umum dengan membaginya berdasarkan tes bicara (yaitu kemampuan pelari berbicara selama lari) dan panduan pace.



Easy run (ER) Lari dalam pace yang nyaman dan santai. Secara umum juga sering disebut jogging. Tes bicara (talk test):  Bisa bicara secara leluasa. Panduan pace: Satu sampai dengan dua menit dari personal best (PB) 5K. Jadi kalau PB 5K kita 30 menit atau sama dengan pace rata-rata 6.00, maka pace ER kita antara pace 7.00 sd. 8.00.


Tempo Run Berlari di ambang batas antara aerobik dan anaerobik. Sebelum memulainya lakukan pemanasan yang cukup. Tes bicara: Saat berlari masih bisa bicara per kalimat. Panduan pace: Biasa disebut comfortably hard tapi secara umum pace tempo run berada antara 10-20 detik lebih lambat dari pace PB 10K. Bila kita menamatkan 10K dalam waktu 50 menit (pace rata-rata 5.00) maka pace tempo run berada di antara 5.10 sd. 5.20


Interval run Metode latihan yang menyelang-selingkan kecepatan dan diselingi istirahat di antaranya. Latihan ini bermanfaat membangun kecepatan. Tes bicara: Saat berlari hanya bisa bicara per kata. Panduan pace: Antara kecepatan PB 5K sd. 10K


Fartlek Berasal dari bahasa Swedia yang artinya speed play atau bermain kecepatan. Fartlek secara umum merupakan salah satu bentuk latihan yang mengombinasikan berbagai kecepatan atau jenis lari seperti cepat, sedang, dan lambat. Ini adalah cara yang kreatif untuk meningkatkan kecepatan dan melatih daya tahan. Tes bicara: Saat berlari hanya bisa bicara secara terbatas. Panduan pace: Sangat variatif, antara kecepatan PB 5K, 10K, half marathon, marathon pace, maupun easy run.


Long run Ini adalah jarak lari terjauh dalam seminggu. Lakukan long run dengan pace sedikit di atas easy run. Long run bermanfaat membangun daya tahan (endurance). Biasanya pelari kerap melakukan long run pada akhir pekan. Tes bicara:  Bisa bicara leluasa namun tingkat kesulitan di atas easy run. Panduan pace:  Secara umum lakukan long run dengan conversational pace atau biasa disebut pace ngobrol. Karena bagi pelari rekreasi (recreational runner) long run itu sejatinya bukan soal seberapa cepat menyelesaikan latihan. Lakukan long run secara nonstop agar tujuannya tercapai. Jadi bila Anda berniat long run 20K, maka dari mulai sampai selesai 20K usahakan terus berlari tanpa berhenti.